Pengarsipan Sistem Nomor DDC: Pengertian, Klasifikasi, Cara Penyimpanan, dan Contoh Praktik
Pengarsipan Sistem Nomor DDC: Pengertian, Klasifikasi, Cara Penyimpanan, dan Contoh Praktik
Panduan lengkap filing system nomor DDC (Dewey) untuk siswa SMK/MPLB, guru, dan praktisi administrasi perkantoran.
Sistem nomor DDC merupakan salah satu pendekatan dalam pengelompokan arsip berdasarkan kode angka. Sistem ini membantu petugas mengelompokkan, menyimpan, dan menemukan kembali dokumen secara sistematis.
Dalam pekerjaan administrasi perkantoran, jumlah dokumen dapat terus bertambah. Tanpa sistem penyimpanan yang jelas, proses menemukan kembali dokumen akan menjadi lambat dan berisiko menimbulkan kesalahan.
Salah satu cara yang dapat digunakan adalah numeric filing system, yaitu sistem penyimpanan arsip berdasarkan nomor atau kode tertentu. Salah satu pola klasifikasi yang dikenal dalam materi kearsipan adalah DDC (Dewey Decimal Classification).
1. Apa Itu Sistem Nomor DDC?
Sistem nomor DDC dalam konteks pembelajaran kearsipan menggunakan kode angka untuk mengelompokkan masalah atau subjek arsip. Setiap kelompok masalah diberikan nomor tertentu sehingga arsip dapat ditempatkan secara teratur.
Dalam praktik pendidikan kearsipan, istilah DDC sering digunakan untuk menjelaskan pola klasifikasi angka yang dipakai dalam filing system. Kode klasifikasi harus mengikuti daftar klasifikasi yang telah ditetapkan oleh organisasi agar konsisten.
2. Tujuan Pengarsipan Sistem Nomor
3. Struktur Klasifikasi
Klasifikasi dapat dibuat secara bertingkat mulai dari masalah utama, submasalah, hingga sub-submasalah.
| Tingkat | Fungsi | Contoh |
|---|---|---|
| Masalah Utama | Kelompok besar masalah | Kepegawaian |
| Submasalah | Rincian dari masalah utama | Pengadaan |
| Sub-submasalah | Rincian lebih spesifik | Izin, mutasi, pensiun |
| Kode | Identitas numerik arsip | 001 |
4. Contoh Daftar Klasifikasi Nomor DDC
Berikut contoh struktur klasifikasi yang dapat digunakan dalam pembelajaran filing system:
| Kode | Masalah Utama | Contoh Subjek |
|---|---|---|
| 000 | Kepegawaian | Formasi dan pengadaan pegawai |
| 001 | Kepegawaian | Izin pegawai |
| 002 | Kepegawaian | Mutasi pegawai |
| 003 | Kepegawaian | Pemberhentian/PHK |
| 004 | Kepegawaian | Pensiun |
| 100 | Perdagangan | Promosi |
| 101 | Perdagangan | Permintaan dan penawaran |
| 120 | Produksi | Pesanan |
| 121 | Produksi | Surat jalan |
| 122 | Produksi | Faktur/invoice |
| 210 | Dinas | Surat tugas |
| 211 | Dinas | Surat keputusan |
| 212 | Dinas | Surat perintah |
5. Langkah-Langkah Pengarsipan Sistem Nomor DDC
-
Identifikasi dokumen.
Baca dan pahami isi atau masalah utama dokumen. -
Tentukan subjek.
Tentukan dokumen termasuk kelompok masalah yang mana. -
Cari kode klasifikasi.
Gunakan daftar klasifikasi nomor yang telah ditetapkan. -
Berikan kode.
Tuliskan kode pada dokumen atau media yang digunakan. -
Simpan berdasarkan urutan kode.
Tempatkan dokumen sesuai urutan angka yang berlaku. -
Catat lokasi penyimpanan.
Gunakan indeks atau daftar arsip untuk membantu penemuan kembali.
6. Contoh Praktik Pengarsipan
Sebuah kantor menerima surat tugas pegawai untuk mengikuti pelatihan. Dalam daftar klasifikasi organisasi, surat tugas diberi kode 210.
Proses:- Identifikasi dokumen sebagai surat tugas.
- Cari subjek dalam daftar klasifikasi.
- Tentukan kode 210.
- Beri kode pada dokumen.
- Simpan pada kelompok nomor 210.
- Catat lokasi penyimpanannya.
7. Cara Menemukan Kembali Arsip
Sistem penyimpanan yang baik harus memudahkan proses retrieval atau penemuan kembali arsip.
- Identifikasi informasi yang dicari.
- Tentukan masalah atau subjek dokumen.
- Cari kode klasifikasi.
- Telusuri nomor pada tempat penyimpanan.
- Ambil dokumen.
- Catat peminjaman apabila diperlukan.
8. Kelebihan dan Keterbatasan
| Kelebihan | Keterbatasan |
|---|---|
|
|
9. Sistem Nomor DDC dalam Kearsipan Digital
Konsep klasifikasi nomor juga dapat diterapkan pada arsip digital. Kode dapat digunakan dalam nama folder, nama file, metadata, atau database dokumen.
ARSIP_KANTOR
│
├── 000_KEPEGAWAIAN
│ ├── 001_IZIN
│ ├── 002_MUTASI
│ └── 004_PENSIUN
│
├── 100_PERDAGANGAN
│ ├── 100_PROMOSI
│ └── 120_PRODUKSI
│
└── 200_DINAS
├── 210_SURAT_TUGAS
├── 211_SURAT_KEPUTUSAN
└── 212_SURAT_PERINTAH
10. DDC, Kearsipan Digital, dan AI
Di lingkungan kerja modern, klasifikasi arsip dapat dikombinasikan dengan teknologi digital dan AI. AI dapat membantu mengidentifikasi informasi pada dokumen dan memberikan saran pengelompokan.
AI dapat membantu proses klasifikasi, tetapi keputusan akhir, validasi kode, keamanan data, dan hak akses tetap harus mengikuti kebijakan organisasi.
🧠 Quiz HOTS Sistem Nomor DDC
❓ FAQ Sistem Nomor DDC
Sistem nomor DDC dalam pembelajaran kearsipan adalah pola pengelompokan arsip menggunakan kode angka berdasarkan klasifikasi yang telah ditentukan.
Kode membantu mengelompokkan arsip dan mempermudah proses penyimpanan serta penemuan kembali.
Ya. Kode dapat diterapkan pada folder, nama file, metadata, maupun database arsip digital.
Bisa, jika kebutuhan organisasi berubah. Namun perubahan harus dikendalikan dan didokumentasikan agar konsistensi penyimpanan tetap terjaga.
🚀 Lanjutkan Pembelajaran Kearsipan
Belajar tidak berhenti pada teori. Latih kemampuan mengelola arsip melalui materi interaktif, quiz HOTS, dan simulasi dunia kerja.
🎓 Buka SBME HubJelajahi Materi Terkait
Temukan materi pembelajaran SmoothLearn lainnya untuk memperluas pemahaman dan praktik.